WISATA ALAM SURENG (WAS)
Tugas Bisnis Kehutanan Kisaran, Juni 2022
ANALISIS TERHADAP OBJEK
WISATA ALAM SURENG
Dosen
Penanggungjawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Disusun Oleh :
DAPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis ucapkan ke kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugasmata kuliah Bisnis Kehutanan
yang berjudul “Analisis terhadap Objek Wisata Alam Sureng” dengan
baik dan tepat waktu. Tujuan dari penulisan ini yaitu sebagai salah satu syarat
dalam mengikuti mata kuliah Bisnis Kehutanan, di Departemen Manajemen Hutan,
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan
terima kasih kepada Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen mata kuliah yang telah
memberikan materi dengan baik dan benar. Meski penulis sudah berusaha
semaksimal mungkin dalam menyelesaikan paper ini agar mendapat yang terbaik,
namun penulis sadar bahwa paper ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan tugas ini.
.
Kisaran, Juni 2022
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
COVER…………………………………………………………………………........i KATA PENGANTAR…………………………………………………………..........ii DAFTAR ISI…………………………………………………………….……...........iii BAB I
PENDAHULUAN A. Latar
Belakang…………………………………………………….............1 B. Tujuan…………..……………………………………………….……........2 BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK WISATA ALAM SURENG BAB III ANALISIS TERHADAP OBJEK WISATA ALAM SURENG A. Analisis terhadap Kondisi Daya
Tarik dan Objek Wisata Alam……...........4 B. Analisis terhadap
Kunjungan Wisatawan……………………….……........5 C. Analisis terhadap Nilai
Ekonomi Objek Wisata Aalam……………….......5 D. Analisis Dampak Covid-19 dan Upaya
Pemulihannya…………………….6 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan……………………………………………………………......7 B.
Saran…………………………………………………………………........7 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor pariwisata merupakan sumber
penerimaan devisa negara tertinggi sehingga dalam hal ini pariwisata sangat
memiliki peran penting. Pengembangan pariwisata berkelanjutan bukan hanya
menjadi tanggungjawab pemerintah saja, namun masyarakat ikut serta berperan
aktif menciptakan daya tarik wisata. Namun, dengan adanya pandemi wabah
Covid-19 ini menyebabkan gangguan pada rantai pasok global, dalam negeri,
volatilitas pasar keuangan, guncangan permintaan konsumen dan terutama
berdampak negatif pada pelaku pariwisata di baik pada perusahaan keci dan
menengah, yaitu pengelola (Sugihamretha, 2020).
Hutan merupakan salah satu
sumberdaya alam yang dapat memulihkan diri selama pemanfaatannya tidak melampui
daya pulihnya, sehingga manfaat ganda dari hutan akan terus mengalir selama
keberadaan dan fungsinya tetap terjamin. Bisnis atau usaha bidang kehutanan
merupakan suatu kegiatan yang mengelola dan memanfaatkan hasil hutan maupun
jasa lingkungannya untuk kepentingan manusia. Nilai manfaat
produk atau jasa yang ditawarkan cendrung memiliki manfaat dasar dan manfaat
potensial bagi konsumen (Rahmadi dkk., 2019).
Sungai merupakan jaringan alur-alur
pada permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah, mulai dari bentuk kecil di
bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah
suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak
sungainya, berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari
curah hujan yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut
sampai daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (Siti
Fadjarajani dkk., 2018).
B. Tujuan
Tujuan dilakukannya Analisis terhadap Wisata Alam Sureng adalah untuk mengetahui
bagaimana bentuk dan jenis-jenis usaha yang ada di Wisata Alam Sureng serta
untuk mengetahui dampak wisata tersebut terhadap pandemi Covid-19.
BAB II
GAMBARAN
UMUM WISATA ALAM SURENG
Kawasan Wisata Alam
Sureng terletak di Jl. Anoa, Sei Renggas, Kec. Kota Kisaran Barat, Kabupaten
Asahan, Sumatera Utara. Objek wisata ini merupakan tempat wisata yang baru saja
dibuka dan dapat dikatakan masih merintis yang perlu dukungan masyarakat sekitar. Secara geografis kawasan ini terletak pada koordinat
2°57'21.0"N 99°35'38.0"E.
Objek Wisata Alam Sureng berada sekitar
± 6 km dari pusat kota Kisaran dengan jarak tempuh 15 menit dengan menggunakan
kendaraan sepeda motor/mobil. Luas objek wisata ini Untuk menuju ke objek wisata ini, telah
disediakan jalan tanah melewati rumah dan perkebunan sawit milik masyarakat.
Objek Wisata Alam Sureng ini memperlihatkan
pemandangan alam berupa sungai dengan berbagai pohon seperti Ketapang (Termanila catappa), Karet (Hevea brasiliensis)
dan juga Sawit (Elaeis guineensis). Objek
wisata ini dikelola oleh masyarakat, diantaranya yaitu bapak H. Dayat Nst,
bapak Endri, bapak Andri dan ada beberapa
orang lagi. Wisata Alam Sureng ini baru saja
dibuka pada Agustus 202. Sebelumnya lokasi ini
di gunakan sebagai lahan kebun perorangan. Luas lahan yang dipakai berkisar 6
rante. Objek wisata ini memiliki fasilitas seperti pondok, bangku-bangku,
warung jualan, toilet, mushola, tempat parkir, tempat bermain anak, tempat
hiburan berupa karaoke dan spot foto berupa payung-payung yang menggantung
diantara pohon sawit juga spot berbentuk love. Serta terdapat hiburan atraksi
berupa penyebrangan sungai menggunakan rakit.
BAB III
ANALISIS TERHADAP OBJEK WISATA ALAM SURENG
A.
Analisis terhadap
Kondisi
Daya Tarik dan Fasilitas Objek Wisata Alam
Pengembangan pariwisata berkelanjutan bukan hanya
menjadi tanggungjawab pemerintah saja, namun masyarakat ikut serta berperan
aktif untuk menciptakan tempat pariwisata yang memiliki daya tarik untuk
dikunjungi. Hal yang harus dilakukan masyarakat untuk daya tarik wisata adalah dengan
menjaga kelestarian alam, mempromosikan ciri khas yang dimiliki setiap daerah
guna untuk menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung. Sektor daya tarik
wisata ini terfokus pada penyediaan daya tarik wisata bagi wisatawan. Sektor
daya tarik wisata yang biasa ditawarkan antara lain pemandangan wisata alam itu
sendiri, hiburan, olah raga dan budaya masyarakat disekitar objek wisata
tersebut. Dalam hal ini, objek Wisata Alam Sureng pada dasarnya memiliki daya
tarik berupa wisata alam baru yang ada di Kabupaten Asahan, yang dahulu hanya
sebagai lahan milik perorangan dengan pengelolaan lahan kebun saja, kini sudah
menjadi tempat wisata. Tempat wisata ini diharapkan menjadi destinasi wisata
yang bisa digunakan untuk edukasi bagi masyarakat dengan konsep ekowista yang
mengedepankan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi dan
masyarakat lokal.
Adapula
sektor-sektor yang dikaitkan atau dihubungkan dalam kegiatan pariwisata yang
secara bersamaan menghasilkan produk pelayanan jasa atau fasilitas umum,
sebagai pendukung kepariwisataan yang dibutuhkan oleh para wisatwan yang
berkunjung. Dalam hal ini, karena wisata ini buka pada masa-masa pandemi, jadi
beragam fasilitas masih terlihat cukup baik atau tidak mengalami kerusakan,
baik pada fasilitas akomodasi, fasilitas konsumsi, fasilitas mck dan juga
fasilitas ibadah. Hal ini dikarenakan tidak terlalu banyak pengunjung yang
menggunakan fasilitas tersebut. Jika ada, hanya beberapa orang saja, dan
kondisi fasilitas masih dalam keadaan yang baik. Mengenai fasilitas di objek Wisata
Alam Sureng, terlihat cukup baik untuk kondisi pondok namun perlu diperbanyak
jumlahnya, kamar mandi dan juga musholanya terlihat baik. Tetapi, untuk kondisi
rakit, sedikit kurang memadai dan lebih baik tidak digunakan melainkan diganti
fasilitasnya menjadi perahu atau sejenisnya.
B.
Analisis terhadap Kunjungan Wisatawan
Masyarakat yang dikatakan sebagai wisatawan
merupakan pemeran utama dalam kegiatan pariwisata. Karena wisatawan sendiri
adalah konsumen atau pengguna dari layanan objek wisata yang disuguhkan. Pada
masa pandemi, yang kondisinya mengharuskan masyarakat untuk tidak berkumpul di
suatu tempat, mengakibatkan objek wisata menjadi sepi, karena berkurangnya
pengunjung atau pun tidak ada pengunjungnya sama sekali. Hal ini sangat
berdampak terhadap objek wisata, yaitu berkurangnya daya tarik terhadap objek
wisata tersebut.
Pada objek wisata yang saya datangi, Wisata Alam
Sureng kurang begitu ramai. Terlihat hanya 10 orang pengunjung saja pada saat
itu, dan dari wawancara yang saya lakukan bersama pengelola objek wisata
tersebut, diketahui bahwa memang pengunjung yang datang sekitar 10- 20 orang
saja dalam seminggu, tepatnya dikunjungi pada hari sabtu dan minggu. Selebihnya
hanya pekerja di objek wisata tersebut. Saat itu juga, saya mewawancarai beberapa orang yang mengunjungi tempat tersebut, mereka berasal dari wilayah di sekitar
yang tak jauh dari tempat itu. Biasanya, pengunjung di objek wisata ini adalah berupa kunjungan keluarga.
C.
Analisis terhadap Nilai
Ekonomi Objek Wisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang
devisa terbesar bagi Indonesia. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 yang menetapkan 5 fokus program pembangunan 5
tahun ke depan yaitu Infrastruktur, Maritim, Energi, Pangan dan Pariwisata
(IMEPP). Dari lima sektor tersebut pariwisata ditetapkan sebagai sektor
unggulan (leading sector). Pariwisata
adalah sektor ekonomi yang sangat signifikan secara global dan lokal, dan
memberikan prospek nyata untuk pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Sektor ini menghasilkan devisa, mendorong pembangunan daerah, secara langsung
mendukung berbagai jenis pekerjaan dan bisnis dan menopang banyak komunitas
lokal. Dalam hal ini, pada Wisata
Alam Sureng, berdasarkan hasil wawancara bersama pengelola yaitu Bapak Endri
diketahui bahwa, biasanya penghasilan hanya mencapai Rp 1.800.000- Rp 2.400.000
dalam sebulan. Penghasilan bisa diperoleh dari
penjualan makanan, minuman, parkir, toilet, sewa pondok dan penyewaan
naik rakit. Wisata ini dapat dikatakan objek yang masih kurang dalam perhatian
masyarakat sehingga pendapatan pada objek wisata tersebut kurang maksimal.
D. Analisis Dampak
Covid-19 dan Upaya Pemulihannya
Melihat berbagai dampak dari covid-19 terhadap
sektor pariwisata yang berpengaruh terhadap penurunan perekonomian, diperlukan
adanya upaya-upaya untuk memulihkan sektor pariwisata di tengah pandemi covid-19
yang masih belum usai. Pemulihan sektor pariwisata dapat dilakukan dengan
penanganan jangka pendek, menengah dan panjang. Penanganan jangka pendek dengan
memberikan dukungan finansial atau stimulus terhadap biaya operasional dan para
pelaku industri pariwisata. Namun, untuk memulihkan sektor pariwisata yang
harus disiapkan terlebih dahulu adalah perbaikan 5 kelemahan daya saing
pariwisata. Mulai dari kebersihan, keamanan, service infrastruktur, kesiapan hingga sustainability.
Langkah awal yang dapat dilakukan untuk memulihkan
sektor pariwisata adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk berwisata
yang aman. Pemerintah melalui Kemenparekraf telah membuat berbagai program yang
bertujuan untuk menekan penyebaran virus covid-19 di tengah tatanan kenormalan
baru / new normal sebagai upaya
pemulihan sektor pariwisata. Program CHS (Cleanliness,
Healthy dan Safety) merupakan program dari Kemenparekraf dalam beradaptasi
dengan kondisi kenormalan baru “new
normal” di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Program ini dibuat untuk
mengatasi ketakutan wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata.
Wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang
terkait dengan kesehatan, keamanan, kenyamanan. Selain itu, pada objek Wisata
Aalam Sureng, upaya pemulihan yang akan dilakukan berupa penambahan
pondok-pondok, menambah dekorasi agar lebih menarik, perbaikan rakit. Hal yang
paling penting yaitu promosi objek wisata kepada masyarakat agar lebih dikenal
dan dapat dikunjungi oleh banyak orang, tidak hanya masyarakat di daerah
sekitar saja melainkan dari daerah-daerah lain.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Sektor pariwisata adalah sumber penerimaan devisa negara tertinggi
sehingga dalam hal ini pariwisata sangat memiliki peran penting.
2. Adanya wabah Covid-19 mengakibatkan adanya tekanan pada industri
pariwisata, yang sangat terlihat pada penurunan wisatawan juga pendapatan.
3. Kawasan objek Wisata Alam Sureng terletak di Jl. Anoa, Sei Renggas, Kec.
Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara dengan luas 6 rante.
4. Wisata Aalam Sureng, jumlah pengunjungnya hanya 10-20 dalam seminggu,
tepatnya pengunjung datang di hari sabtu dan minggu
5. Terkait nilai ekonomi, penghasilan objek Wisata Alam Sureng hanya
mencapai Rp 1.800.000 – Rp 2.400.000 dalam sebulan
B. Saran
Sebaiknya, pengelola
objek Wisata Alam Sureng bisa memperbaiki kondisi rakit yang kurang memadai
karena terlihat kurang baik kondisinya dan kurang aman, menyedikan tempat sampah di sisi pondok agar
lebih terjaga kebersihannya juga menghindari membuang sampah sembarangan yaitu
kedalam kawasan sungai, dan memperketat protokol kesehatan serta pemerintah bisa lebih
memperhatikan dan mendukung objek wisata tersebut agar lebih baik. Hal yang
paling penting yaitu promosi objek wisata kepada masyarakat agar lebih dikenal
dan dapat dikunjungi oleh banyak orang, tidak hanya masyarakat di daerah
sekitar saja melainkan dari daerah-daerah lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Rahmadi, Uma S, Riawati E, Ridwansyah M. 2019. Kelayakan Rencana Bisnis
Komoditas Kesatuan Pengelolaan Hutan Pproduksi (KPHP) DAS Belayan Provinsi
Kalimantan Timur. Jurnal Ekonomi
Sumberdaya dan Lingkungan, 8(3) : 194-202.
Sugihamretha IDG. 2020. Respon Kebijakan: Mitigasi Dampak Wabah Covid-19
pada Sektor Pariwisata. Jurnal
Perencanaan Pembangunan, 4(2):191-206.
Fadjarajani,
Singkawijaya EB dan Indriane T. 2018. Peran Serta Masyarakat Dalam Menjaga
Kelestarian Sungai Cimulu Di Kota Tasikmalaya. Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta
LAMPIRAN

Nama objek wisata
.jpeg)
Objek wisata

Foto bersama pengunjung

Tempat bermain

Fasilitas : Toilet

Fasilitas : Musholla
.jpeg)
Foto bersama pengelola
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor pariwisata merupakan sumber
penerimaan devisa negara tertinggi sehingga dalam hal ini pariwisata sangat
memiliki peran penting. Pengembangan pariwisata berkelanjutan bukan hanya
menjadi tanggungjawab pemerintah saja, namun masyarakat ikut serta berperan
aktif menciptakan daya tarik wisata. Namun, dengan adanya pandemi wabah
Covid-19 ini menyebabkan gangguan pada rantai pasok global, dalam negeri,
volatilitas pasar keuangan, guncangan permintaan konsumen dan terutama
berdampak negatif pada pelaku pariwisata di baik pada perusahaan keci dan
menengah, yaitu pengelola (Sugihamretha, 2020).
Hutan merupakan salah satu
sumberdaya alam yang dapat memulihkan diri selama pemanfaatannya tidak melampui
daya pulihnya, sehingga manfaat ganda dari hutan akan terus mengalir selama
keberadaan dan fungsinya tetap terjamin. Bisnis atau usaha bidang kehutanan
merupakan suatu kegiatan yang mengelola dan memanfaatkan hasil hutan maupun
jasa lingkungannya untuk kepentingan manusia. Nilai manfaat
produk atau jasa yang ditawarkan cendrung memiliki manfaat dasar dan manfaat
potensial bagi konsumen (Rahmadi dkk., 2019).
Sungai merupakan jaringan alur-alur
pada permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah, mulai dari bentuk kecil di
bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah
suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak
sungainya, berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari
curah hujan yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut
sampai daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (Siti
Fadjarajani dkk., 2018).
B. Tujuan
Tujuan dilakukannya Analisis terhadap Wisata Alam Sureng adalah untuk mengetahui
bagaimana bentuk dan jenis-jenis usaha yang ada di Wisata Alam Sureng serta
untuk mengetahui dampak wisata tersebut terhadap pandemi Covid-19.
GAMBARAN UMUM WISATA ALAM SURENG
Kawasan Wisata Alam
Sureng terletak di Jl. Anoa, Sei Renggas, Kec. Kota Kisaran Barat, Kabupaten
Asahan, Sumatera Utara. Objek wisata ini merupakan tempat wisata yang baru saja
dibuka dan dapat dikatakan masih merintis yang perlu dukungan masyarakat sekitar. Secara geografis kawasan ini terletak pada koordinat
2°57'21.0"N 99°35'38.0"E.
Objek Wisata Alam Sureng berada sekitar
± 6 km dari pusat kota Kisaran dengan jarak tempuh 15 menit dengan menggunakan
kendaraan sepeda motor/mobil. Luas objek wisata ini Untuk menuju ke objek wisata ini, telah
disediakan jalan tanah melewati rumah dan perkebunan sawit milik masyarakat.
Objek Wisata Alam Sureng ini memperlihatkan pemandangan alam berupa sungai dengan berbagai pohon seperti Ketapang (Termanila catappa), Karet (Hevea brasiliensis) dan juga Sawit (Elaeis guineensis). Objek wisata ini dikelola oleh masyarakat, diantaranya yaitu bapak H. Dayat Nst, bapak Endri, bapak Andri dan ada beberapa orang lagi. Wisata Alam Sureng ini baru saja dibuka pada Agustus 202. Sebelumnya lokasi ini di gunakan sebagai lahan kebun perorangan. Luas lahan yang dipakai berkisar 6 rante. Objek wisata ini memiliki fasilitas seperti pondok, bangku-bangku, warung jualan, toilet, mushola, tempat parkir, tempat bermain anak, tempat hiburan berupa karaoke dan spot foto berupa payung-payung yang menggantung diantara pohon sawit juga spot berbentuk love. Serta terdapat hiburan atraksi berupa penyebrangan sungai menggunakan rakit.
BAB III
ANALISIS TERHADAP OBJEK WISATA ALAM SURENG
A.
Analisis terhadap
Kondisi
Daya Tarik dan Fasilitas Objek Wisata Alam
Pengembangan pariwisata berkelanjutan bukan hanya
menjadi tanggungjawab pemerintah saja, namun masyarakat ikut serta berperan
aktif untuk menciptakan tempat pariwisata yang memiliki daya tarik untuk
dikunjungi. Hal yang harus dilakukan masyarakat untuk daya tarik wisata adalah dengan
menjaga kelestarian alam, mempromosikan ciri khas yang dimiliki setiap daerah
guna untuk menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung. Sektor daya tarik
wisata ini terfokus pada penyediaan daya tarik wisata bagi wisatawan. Sektor
daya tarik wisata yang biasa ditawarkan antara lain pemandangan wisata alam itu
sendiri, hiburan, olah raga dan budaya masyarakat disekitar objek wisata
tersebut. Dalam hal ini, objek Wisata Alam Sureng pada dasarnya memiliki daya
tarik berupa wisata alam baru yang ada di Kabupaten Asahan, yang dahulu hanya
sebagai lahan milik perorangan dengan pengelolaan lahan kebun saja, kini sudah
menjadi tempat wisata. Tempat wisata ini diharapkan menjadi destinasi wisata
yang bisa digunakan untuk edukasi bagi masyarakat dengan konsep ekowista yang
mengedepankan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi dan
masyarakat lokal.
Adapula sektor-sektor yang dikaitkan atau dihubungkan dalam kegiatan pariwisata yang secara bersamaan menghasilkan produk pelayanan jasa atau fasilitas umum, sebagai pendukung kepariwisataan yang dibutuhkan oleh para wisatwan yang berkunjung. Dalam hal ini, karena wisata ini buka pada masa-masa pandemi, jadi beragam fasilitas masih terlihat cukup baik atau tidak mengalami kerusakan, baik pada fasilitas akomodasi, fasilitas konsumsi, fasilitas mck dan juga fasilitas ibadah. Hal ini dikarenakan tidak terlalu banyak pengunjung yang menggunakan fasilitas tersebut. Jika ada, hanya beberapa orang saja, dan kondisi fasilitas masih dalam keadaan yang baik. Mengenai fasilitas di objek Wisata Alam Sureng, terlihat cukup baik untuk kondisi pondok namun perlu diperbanyak jumlahnya, kamar mandi dan juga musholanya terlihat baik. Tetapi, untuk kondisi rakit, sedikit kurang memadai dan lebih baik tidak digunakan melainkan diganti fasilitasnya menjadi perahu atau sejenisnya.
B.
Analisis terhadap Kunjungan Wisatawan
Masyarakat yang dikatakan sebagai wisatawan
merupakan pemeran utama dalam kegiatan pariwisata. Karena wisatawan sendiri
adalah konsumen atau pengguna dari layanan objek wisata yang disuguhkan. Pada
masa pandemi, yang kondisinya mengharuskan masyarakat untuk tidak berkumpul di
suatu tempat, mengakibatkan objek wisata menjadi sepi, karena berkurangnya
pengunjung atau pun tidak ada pengunjungnya sama sekali. Hal ini sangat
berdampak terhadap objek wisata, yaitu berkurangnya daya tarik terhadap objek
wisata tersebut.
Pada objek wisata yang saya datangi, Wisata Alam Sureng kurang begitu ramai. Terlihat hanya 10 orang pengunjung saja pada saat itu, dan dari wawancara yang saya lakukan bersama pengelola objek wisata tersebut, diketahui bahwa memang pengunjung yang datang sekitar 10- 20 orang saja dalam seminggu, tepatnya dikunjungi pada hari sabtu dan minggu. Selebihnya hanya pekerja di objek wisata tersebut. Saat itu juga, saya mewawancarai beberapa orang yang mengunjungi tempat tersebut, mereka berasal dari wilayah di sekitar yang tak jauh dari tempat itu. Biasanya, pengunjung di objek wisata ini adalah berupa kunjungan keluarga.
C.
Analisis terhadap Nilai
Ekonomi Objek Wisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 yang menetapkan 5 fokus program pembangunan 5 tahun ke depan yaitu Infrastruktur, Maritim, Energi, Pangan dan Pariwisata (IMEPP). Dari lima sektor tersebut pariwisata ditetapkan sebagai sektor unggulan (leading sector). Pariwisata adalah sektor ekonomi yang sangat signifikan secara global dan lokal, dan memberikan prospek nyata untuk pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Sektor ini menghasilkan devisa, mendorong pembangunan daerah, secara langsung mendukung berbagai jenis pekerjaan dan bisnis dan menopang banyak komunitas lokal. Dalam hal ini, pada Wisata Alam Sureng, berdasarkan hasil wawancara bersama pengelola yaitu Bapak Endri diketahui bahwa, biasanya penghasilan hanya mencapai Rp 1.800.000- Rp 2.400.000 dalam sebulan. Penghasilan bisa diperoleh dari penjualan makanan, minuman, parkir, toilet, sewa pondok dan penyewaan naik rakit. Wisata ini dapat dikatakan objek yang masih kurang dalam perhatian masyarakat sehingga pendapatan pada objek wisata tersebut kurang maksimal.
D. Analisis Dampak
Covid-19 dan Upaya Pemulihannya
Melihat berbagai dampak dari covid-19 terhadap
sektor pariwisata yang berpengaruh terhadap penurunan perekonomian, diperlukan
adanya upaya-upaya untuk memulihkan sektor pariwisata di tengah pandemi covid-19
yang masih belum usai. Pemulihan sektor pariwisata dapat dilakukan dengan
penanganan jangka pendek, menengah dan panjang. Penanganan jangka pendek dengan
memberikan dukungan finansial atau stimulus terhadap biaya operasional dan para
pelaku industri pariwisata. Namun, untuk memulihkan sektor pariwisata yang
harus disiapkan terlebih dahulu adalah perbaikan 5 kelemahan daya saing
pariwisata. Mulai dari kebersihan, keamanan, service infrastruktur, kesiapan hingga sustainability.
Langkah awal yang dapat dilakukan untuk memulihkan
sektor pariwisata adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk berwisata
yang aman. Pemerintah melalui Kemenparekraf telah membuat berbagai program yang
bertujuan untuk menekan penyebaran virus covid-19 di tengah tatanan kenormalan
baru / new normal sebagai upaya
pemulihan sektor pariwisata. Program CHS (Cleanliness,
Healthy dan Safety) merupakan program dari Kemenparekraf dalam beradaptasi
dengan kondisi kenormalan baru “new
normal” di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Program ini dibuat untuk
mengatasi ketakutan wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata.
Wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang
terkait dengan kesehatan, keamanan, kenyamanan. Selain itu, pada objek Wisata
Aalam Sureng, upaya pemulihan yang akan dilakukan berupa penambahan
pondok-pondok, menambah dekorasi agar lebih menarik, perbaikan rakit. Hal yang
paling penting yaitu promosi objek wisata kepada masyarakat agar lebih dikenal
dan dapat dikunjungi oleh banyak orang, tidak hanya masyarakat di daerah
sekitar saja melainkan dari daerah-daerah lain.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Sektor pariwisata adalah sumber penerimaan devisa negara tertinggi
sehingga dalam hal ini pariwisata sangat memiliki peran penting.
2. Adanya wabah Covid-19 mengakibatkan adanya tekanan pada industri pariwisata, yang sangat terlihat pada penurunan wisatawan juga pendapatan.
3. Kawasan objek Wisata Alam Sureng terletak di Jl. Anoa, Sei Renggas, Kec.
Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara dengan luas 6 rante.
4. Wisata Aalam Sureng, jumlah pengunjungnya hanya 10-20 dalam seminggu,
tepatnya pengunjung datang di hari sabtu dan minggu
5. Terkait nilai ekonomi, penghasilan objek Wisata Alam Sureng hanya
mencapai Rp 1.800.000 – Rp 2.400.000 dalam sebulan
B. Saran
Sebaiknya, pengelola
objek Wisata Alam Sureng bisa memperbaiki kondisi rakit yang kurang memadai
karena terlihat kurang baik kondisinya dan kurang aman, menyedikan tempat sampah di sisi pondok agar
lebih terjaga kebersihannya juga menghindari membuang sampah sembarangan yaitu
kedalam kawasan sungai, dan memperketat protokol kesehatan serta pemerintah bisa lebih
memperhatikan dan mendukung objek wisata tersebut agar lebih baik. Hal yang
paling penting yaitu promosi objek wisata kepada masyarakat agar lebih dikenal
dan dapat dikunjungi oleh banyak orang, tidak hanya masyarakat di daerah
sekitar saja melainkan dari daerah-daerah lain.
DAFTAR PUSTAKA
Rahmadi, Uma S, Riawati E, Ridwansyah M. 2019. Kelayakan Rencana Bisnis
Komoditas Kesatuan Pengelolaan Hutan Pproduksi (KPHP) DAS Belayan Provinsi
Kalimantan Timur. Jurnal Ekonomi
Sumberdaya dan Lingkungan, 8(3) : 194-202.
Sugihamretha IDG. 2020. Respon Kebijakan: Mitigasi Dampak Wabah Covid-19 pada Sektor Pariwisata. Jurnal Perencanaan Pembangunan, 4(2):191-206.
Fadjarajani, Singkawijaya EB dan Indriane T. 2018. Peran Serta Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Sungai Cimulu Di Kota Tasikmalaya. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
LAMPIRAN
![]() |
| Nama objek wisata |
![]() |
| Objek wisata |
![]() |
| Foto bersama pengunjung |
![]() |
| Tempat bermain |
![]() |
| Fasilitas : Toilet |
![]() |
| Fasilitas : Musholla |
![]() |
| Foto bersama pengelola |
.png)
Komentar
Posting Komentar